Profil Diri dan Inilah Saya bagi Keluarga
Nama
saya Muria Dwi Lestari, saya lahir di kota Bekasi pada tanggal 8 Mei 1996. Saya
dilahirkan dari keluarga yang sangat bahagia dan sangat bersyukur, karena
ketika lahir saya masih memiliki orangtua yang menyayangi
anak-anaknya. Orangtua saya bernama Bapak Muchtar dan Ibu Komalasari. Saya juga
memiliki satu orang kakak perempuan yang bernama Riyani Muchtar, kami memiliki
jarak usia tiga tahun. Saya juga memiliki seorang adik laki-laki yang bernama
Rifky Hilmansyah yang jarak usia kami enam tahun. Selain itu, saya juga
memiliki dua orang adik dari ibu yang berbeda. Mereka adalah Ria Septiani yang
berusia lima tahun dan Agung Prasetya yang berusia tiga tahun.
Semasa SD saya terkenal anak yang
sangat periang jika ibu saya mengantarkan ke sekolah, namun jika ibu saya tidak
mengantarkan saya ke sekolah maka saya berubah menjadi anak yang cengeng.
Meskipun begitu itu tidak berlangsung lama, itu hanya terjadi ketika saya duduk
di kelas satu. Setelah naik kelas ke kelas dua, saya menjadi anak yang
pemberani dan tidak cengeng lagi. Saya bersekolah di SDN Bintara 04 hanya
sampai kelas empat semester satu saja, karena Bapak saya terlilit hutang dan
terpaksa menjual rumah kami. Kami pindah rumah ke daerah Setu, Bantar Gebang,
Bekasi. Namun kakak saya tinggal dengan nenek saya di Jakarta, Bapak saya juga
bekerja di Jakarta dan hanya sebulan sekali pulang untuk memberi kami nafkah.
Saya
melanjutkan sekolah saya di SDN Ciledug 02. Sekolah di SD ini sangat berbeda
dengan di Bintara dulu. Selain bahasa yang digunakan di sini Bahasa Sunda, saya
pun kesulitan untuk beradaptasi. Untungnya saya mempunyai teman sekelas yang
rumahnya tidak jauh dari rumah saya, sehingga saya belajar banyak darinya.
Karena saya murid pindahan, saya tetap duduk di kelas empat tetapi saya
bersyukur saya masuk peringkat tiga besar. Sejak naik ke kelas lima, saya
menjadi murid yang aktif dan juga cerdas. Terbukti ketika saya diminta untuk
mewakili sekolah mengikuti lomba cerdas cermat se-Kabupaten Bekasi dan saya
mendapat juara tiga.
Tidak
berhenti hanya di situ, saya merasa lebih bersemangat lagi untuk mengikuti
lomba-lomba lainnya. Hingga saat ada perlombaan menyanyi Pupuh Sunda tingkat
Kabupaten Bekasi, saya dipercaya oleh Ibu Kepala Sekolah untuk mewakili sekolah
saya di perlombaan tersebut. Padahal sebelum terpilih, saya dan teman-teman
sekelas saya di tes menyanyi terlebih dahulu oleh Ibu Guru. Untuk itu, saya
tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya selalu berlatih hingga pada saat
perlombaan saya sudah siap. Saya sudah optimis akan memenangkan perlombaan itu,
namun saya hanya meraih juara dua, karena juara pertama yang dipilih laki-laki.
Selain mendapat piala dan hadiah, saya dan juara pertama akan mewakili
Kabupaten Bekasi untuk lomba di tingkat Provinsi Jawa Barat. Entah karena hal
apa, ternyata yang mewakili di perlombaan tingkat Provinsi hanya juara pertama
saja.
Setelah
beberapa hari, saya merasa menjadi orang yang gagal membanggakan orangtua dan
sekolah. Tetapi itu semua tidak membuat saya menyerah, saya mengikuti lomba
lainnya. Saya masih dipercaya untuk mengikuti lomba Da’i Cilik. Lomba tersebut
membutuhkan pakaian muslim yang bagus, sedangkan saya tidak punya pakaian
muslim. Ibu saya berinisiatif untuk menelepon Bapak saya dengan meminjam HP
tetangga. Namun saat itu Bapak saya sedang tidak memiliki cukup uang untuk
membeli baju muslim baru, karena Bapak saya bekerja sebagai tukang ojek yang
penghasilannya tidak menentu. Beruntung saya memiliki tante yang baik hati,
karena beliau membelikan saya baju muslim untuk lomba. Saat lomba pun tiba,
saya sangat percaya diri karena didukung oleh semua keluarga dan baju muslim
yang bagus. Ternyata proses tidak mengkhianati hasil, saya meraih juara satu di
perlombaan tersebut.
Setelah
naik ke kelas enam, saya sudah tidak diizinkan lagi untuk mengikuti perlombaan
karena harus fokus pada Ujian Nasional. Alhamdulillah saya lulus dengan nilai
yang cukup memuaskan. Setelah lulus SD, orangtua saya memutuskan untuk pindah
ke Jakarta. Kami tinggal di rumah nenek dari Bapak saya. Rumah tersebut
ditempati oleh empat keluarga, dimana setiap keluarga mendapatkan satu kamar.
Saya
melanjutkan sekolah saya di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTs N) 21 Jakarta,
karena pindah Rayon Bekasi ke Jakarta jadi NEM saya dikurang 2,0. Selain masuk
sekolah ini menggunakan NEM, di sekolah ini juga ada tes tertulis dan tes
membaca Al-Quran. Saya lulus tes dengan nilai yang sangat memuaskan, sehingga
saya mendapat kelas favorit yaitu kelas 7-1. Persaingan di kelas ini sangat
ketat, saya hanya masuk peringkat 20 besar sehingga saat kenaikan kelas saya
masuk di kelas 8-5. Di kelas 8-5 saya tekun belajar lagi sehingga saya berhasil
mendapat peringkat satu selama dua semester berturut-turut sehingga saya
dikenal guru. Saya dipercaya untuk mewakili lomba lagi untuk mewakili sekolah.
Saya dan teman saya dipercaya mewakili sekolah untuk lomba musikalisasi puisi
tingkat SMP se-DKI Jakarta, tetapi walaupun tim kami tidak menang setidaknya
kami sudah membuat bangga sekolah. Selain itu, saya juga aktif mengikuti
kegiatan ekstrakulikuler Marawis dan Qasidah sebagai vokalis. Marawis kami
memang sudah lumayan terkenal, jadi selalu ada panggilan untuk tampil di acara
keagamaan seperti maulid.
Naik
ke kelas sembilan, saya diminta teman-teman untuk menjadi ketua kelas lagi
seperti di kelas delapan. Namun saya tidak mau karena saya mau fokus dengan
Ujian Nasional. Di semester satu kelas sembilan saya mendapat peringkat satu,
dan saya harus bisa mempertahankan peringkat tersebut karena yang saya tahu
apabila lulus dari sekolah saya dengan peringkat satu, maka akan mendapat
sertifikat dan hadiah. Itulah yang memotivasi saya untuk mempertahankan
peringkat saya. Pengumuman peringkat satu ternyata diumumkan saat perpisahan
yang diadakan di daerah Puncal, Bogor. Alhamdulillah saya mampu mempertahankan
peringkat satu saya dan dengan bangga saya naik ke atas panggung setelah nama
saya dipanggil.
Perjalanan
hidup saya belum selesai sampai di tahap ini, saya ingin terus melanjutkan
pendidikan. Saya memilih SMKN 48 Jakarta alasannya karena kakak saya tidak
berhasil masuk ke sekolah tersebut beberapa tahun sebelumnya, jaid saya
bertekad bahwa saya pasti bisa lulus tes seleksi di SMKN 48 yang termasuk
Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI). Berbagai tes yang sudah saya
lakukan dan Alhamdulillah saya lulus dan saya menempati urutan kedua nilai
tertinggi untuk jurusan Marketing/Pemasaran. Saya sangat bersyukur karena
orangtua saya pun sangat bangga karena dari beberapa tetangga saya yang daftar
ke sekolah tersebut, hanya saya dan anak dari Pak RT saja yang lulus.
Tak
lama setelah masuk sekolah, saya terancam harus berhenti sekolah karena keadaan
ekonomi keluarga saya yang tidak baik. Bapak saya sudah tidak bekerja lagi,
sehingga tidak punya uang untuk membayar uang pangkal sebesar Rp.
3.500.000,- dan uang SPP Rp.
350.000,- per bulan. Saat itu saya sudah
tidak diperbolehkan lagi masuk ke sekolah, tetapi saya bertekad ingin terus belajar walaupun saya diberikan
ongkos pas-pasan untuk pulang pergi naik angkutan umum. Pernah suatu ketika
orangtua saya tidak mempunyai uang untuk memberikan ongkos jadi saya terpaksa
tidak masuk sekolah selama hampir satu minggu.
Beruntungnya
saya memiliki teman yang baik dan peduli terhadap saya. Dia datang ke rumah
saya dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada saya, dan saya pun
menceritakan semuanya. Lalu dia meminta saya untuk tetap masuk sekolah dan dia
memberikan uangnya pada saya untuk ongkos naik angkutan umum. Keesokan harinya
setelah pulang sekolah, dia berbicara pada saya bahwa orangtuanya mau membantu
meringankan biaya sekolah saya dengan syarat saya harus tinggal di rumah
beliau. Setelah saya berbicara dengan orangtua saya, mereka pun menyetujuinya.
Saya pun langsung menyiapkan pakaian yang akan saya bawa dan saya diantar oleh
Bapak saya ke rumah teman saya itu. Selama saya tinggal di sana, saya membantu
bersih-bersih rumah dan saya sangat bersyukur karena saya dapat melanjutkan
sekolah saya. Saya tinggal di sana tidak lama, hanya sekitar dua bulan karena
mungkin teman saya terganggu dengan adanya saya di rumah itu sehingga saya
tidak diizinkan lagi untuk tinggal di sana dan biaya sekolah saya pun terancam
tidak dibayarkan lagi oleh beliau.
Setelah
naik kelas dua, ada kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang memang
dilaksanakan sesuai dengan jurusan masing-masing. Jurusan yang saya ambil yaitu
Pemasaran sehingga saya PKL di Ramayana tetapi pada angkatan saya, diberikan
kebebasan untuk memilih tempat PKL yang diinginkan. Akhirnya saya mendapatkan
PKL di PT Prima Express (Primex) yang lokasinya tidak jauh dari rumah sehingga
saya hanya jalan kaki.
Selama
magang saya mempelajari banyak hal seperti cara mengirim surat lewat fax,
menscan dokumen dan penerimaan karyawan karena memang saya ditempatkan di
bagian HRD. Bahkan saya juga dipercayai untuk membantu pembagian gaji sehingga
membuka obrolan mengenai sekolah saya dengan Bapak Bos dan bagian keuangan. Kesimpulan
dari obrolan itu adalah beliau ingin membatu saya membayar tunggakan SPP dan
uang gedung yang belum lunas sebesar Rp. 3.815.000,- tetapi bukan saya
diberikan langsung uang tersebut secara tunai, melainkan bagian keuanganlah
yang datang ke sekolah saya untuk melunasinya.
Saya
sangat bersyukur karena tidak menyangka akan mendapatkan gaji yang jumlahnya
sangat besar dan menutupi bayaran sekolah saya. Setelah dua bulan magang,
habislah masa PKL saya. Saya kembali bersekolah dan pamitan kepada seluruh
karyawan Primex. Satu bulan kemudian, RSBI dihapuskan dan semua yang siswa yang
belum melunasi bayaran akan diputihkan alias tidak ada kewajiban untuk membayar
lagi. Saya merasa sedih mengapa tidak sebelum saya gajian saja diputihkannya
tetapi di sisi lain saya juga senang dan bangga karena berarti saya sudah tidak
mempunyai hutang pada sekolah.
Waktu
terus berlalu, hingga akhirnya saya pun lulus. Saya mempunyai niatan yang
tinggi yaitu saya ingin melanjutkanpendidikan sampai Perguruan Tinggi, tetapi
saya rasa itu tidak mungkin karena memang keadaan ekonomi keluarga saya yang
sangat tidak memungkinkan. Di saat saya rasa itu semua tidak mungkin, namun
Allah SWT menunjukkan Kuasa-Nya yaitu dengan saya dipertemukan dengan orang
yang sangat baik hati yang menawarkan saya untuk membantunya bekerja di
bengkel. Nama bengkelnya yaitu Jaya Multindo Motor.
Saat
itu Ibu Bos saya menanyakan apakah saya ingin kuliah atau tidak, tanpa pikir
panjang saya langsung menjawab “iya”. Saya pun daftar Seleksi Bersama Masuk
Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Saya memilih jurusan yang sesuai dengan
jurusan saya di SMK sebelumnya yakni Jurusan Pendidikan Tata Niaga di
Universitas Negeri Jakarta, pilihan kedua yaitu Pendidikan Guru Sekolah Dasar
dan yang ketiga jurusan pendidikan luar sekolah. Tetapi saya tidak lolos di
SBMPTN dan saya mengikuti Seleksi Mandiri di UNJ dan ternyata saya lolos dan
berhasil masuk ke jurusan Pendidikan Luar Sekolah UNJ.
Setelah
saya berhasil masuk perguruan tinggi negeri, orang tua saya sangat bangga dan
saya pun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya berusaha memberikan
yang terbaik dengan makin tekun belajar. Pada saat semester pertama saya
mengikuti seleksi ASEAN Japan Youth Forum dengan mengirimkan essai dan
Alhamdulillah, Essai saya lolos, saya pun mengikuti event tersebut sebagai
delegasi Indonesia di Bengkulu.
Hal
ini membuat keluarga saya tambah bangga. Karena anak dari seorang kurir dan
pembantu rumah tangga berhasil menjadi delegasi Indonesia di event
Internasional. Bahkan majikan ibu saya pun tidak percaya, tidak hanya itu
sebelumnya saya juga berhasil meraih juara tiga lomba menciptakan dan membaca
puisi yang diselenggarakan oleh BNN di UNJ.
Semester
tiga, saya dan tim juga berhasil lolos seleksi essai untuk Program Mahasiswa
Wirausaha yang diketuai oleh saya sendiri. Tahap demi tahap tim kami melewati
seleksi dan akhirnya kami berhasil mendapatkan dana Rp. 4.800.000,- dan inilah
saya bagi keluarga yang selalu dan ingin terus membuat orang tua saya lebih
bangga.