Jumat, 23 September 2016

Profil Diri dan Inilah Saya bagi Keluarga

Profil Diri dan Inilah Saya bagi Keluarga

Nama saya Muria Dwi Lestari, saya lahir di kota Bekasi pada tanggal 8 Mei 1996. Saya dilahirkan dari keluarga yang sangat bahagia dan sangat bersyukur, karena ketika lahir saya masih memiliki orangtua yang menyayangi anak-anaknya. Orangtua saya bernama Bapak Muchtar dan Ibu Komalasari. Saya juga memiliki satu orang kakak perempuan yang bernama Riyani Muchtar, kami memiliki jarak usia tiga tahun. Saya juga memiliki seorang adik laki-laki yang bernama Rifky Hilmansyah yang jarak usia kami enam tahun. Selain itu, saya juga memiliki dua orang adik dari ibu yang berbeda. Mereka adalah Ria Septiani yang berusia lima tahun dan Agung Prasetya yang berusia tiga tahun.
            Semasa SD saya terkenal anak yang sangat periang jika ibu saya mengantarkan ke sekolah, namun jika ibu saya tidak mengantarkan saya ke sekolah maka saya berubah menjadi anak yang cengeng. Meskipun begitu itu tidak berlangsung lama, itu hanya terjadi ketika saya duduk di kelas satu. Setelah naik kelas ke kelas dua, saya menjadi anak yang pemberani dan tidak cengeng lagi. Saya bersekolah di SDN Bintara 04 hanya sampai kelas empat semester satu saja, karena Bapak saya terlilit hutang dan terpaksa menjual rumah kami. Kami pindah rumah ke daerah Setu, Bantar Gebang, Bekasi. Namun kakak saya tinggal dengan nenek saya di Jakarta, Bapak saya juga bekerja di Jakarta dan hanya sebulan sekali pulang untuk memberi kami nafkah.
Saya melanjutkan sekolah saya di SDN Ciledug 02. Sekolah di SD ini sangat berbeda dengan di Bintara dulu. Selain bahasa yang digunakan di sini Bahasa Sunda, saya pun kesulitan untuk beradaptasi. Untungnya saya mempunyai teman sekelas yang rumahnya tidak jauh dari rumah saya, sehingga saya belajar banyak darinya. Karena saya murid pindahan, saya tetap duduk di kelas empat tetapi saya bersyukur saya masuk peringkat tiga besar. Sejak naik ke kelas lima, saya menjadi murid yang aktif dan juga cerdas. Terbukti ketika saya diminta untuk mewakili sekolah mengikuti lomba cerdas cermat se-Kabupaten Bekasi dan saya mendapat juara tiga.
Tidak berhenti hanya di situ, saya merasa lebih bersemangat lagi untuk mengikuti lomba-lomba lainnya. Hingga saat ada perlombaan menyanyi Pupuh Sunda tingkat Kabupaten Bekasi, saya dipercaya oleh Ibu Kepala Sekolah untuk mewakili sekolah saya di perlombaan tersebut. Padahal sebelum terpilih, saya dan teman-teman sekelas saya di tes menyanyi terlebih dahulu oleh Ibu Guru. Untuk itu, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya selalu berlatih hingga pada saat perlombaan saya sudah siap. Saya sudah optimis akan memenangkan perlombaan itu, namun saya hanya meraih juara dua, karena juara pertama yang dipilih laki-laki. Selain mendapat piala dan hadiah, saya dan juara pertama akan mewakili Kabupaten Bekasi untuk lomba di tingkat Provinsi Jawa Barat. Entah karena hal apa, ternyata yang mewakili di perlombaan tingkat Provinsi hanya juara pertama saja.
Setelah beberapa hari, saya merasa menjadi orang yang gagal membanggakan orangtua dan sekolah. Tetapi itu semua tidak membuat saya menyerah, saya mengikuti lomba lainnya. Saya masih dipercaya untuk mengikuti lomba Da’i Cilik. Lomba tersebut membutuhkan pakaian muslim yang bagus, sedangkan saya tidak punya pakaian muslim. Ibu saya berinisiatif untuk menelepon Bapak saya dengan meminjam HP tetangga. Namun saat itu Bapak saya sedang tidak memiliki cukup uang untuk membeli baju muslim baru, karena Bapak saya bekerja sebagai tukang ojek yang penghasilannya tidak menentu. Beruntung saya memiliki tante yang baik hati, karena beliau membelikan saya baju muslim untuk lomba. Saat lomba pun tiba, saya sangat percaya diri karena didukung oleh semua keluarga dan baju muslim yang bagus. Ternyata proses tidak mengkhianati hasil, saya meraih juara satu di perlombaan tersebut.
Setelah naik ke kelas enam, saya sudah tidak diizinkan lagi untuk mengikuti perlombaan karena harus fokus pada Ujian Nasional. Alhamdulillah saya lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Setelah lulus SD, orangtua saya memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Kami tinggal di rumah nenek dari Bapak saya. Rumah tersebut ditempati oleh empat keluarga, dimana setiap keluarga mendapatkan satu kamar.
Saya melanjutkan sekolah saya di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTs N) 21 Jakarta, karena pindah Rayon Bekasi ke Jakarta jadi NEM saya dikurang 2,0. Selain masuk sekolah ini menggunakan NEM, di sekolah ini juga ada tes tertulis dan tes membaca Al-Quran. Saya lulus tes dengan nilai yang sangat memuaskan, sehingga saya mendapat kelas favorit yaitu kelas 7-1. Persaingan di kelas ini sangat ketat, saya hanya masuk peringkat 20 besar sehingga saat kenaikan kelas saya masuk di kelas 8-5. Di kelas 8-5 saya tekun belajar lagi sehingga saya berhasil mendapat peringkat satu selama dua semester berturut-turut sehingga saya dikenal guru. Saya dipercaya untuk mewakili lomba lagi untuk mewakili sekolah. Saya dan teman saya dipercaya mewakili sekolah untuk lomba musikalisasi puisi tingkat SMP se-DKI Jakarta, tetapi walaupun tim kami tidak menang setidaknya kami sudah membuat bangga sekolah. Selain itu, saya juga aktif mengikuti kegiatan ekstrakulikuler Marawis dan Qasidah sebagai vokalis. Marawis kami memang sudah lumayan terkenal, jadi selalu ada panggilan untuk tampil di acara keagamaan seperti maulid.
Naik ke kelas sembilan, saya diminta teman-teman untuk menjadi ketua kelas lagi seperti di kelas delapan. Namun saya tidak mau karena saya mau fokus dengan Ujian Nasional. Di semester satu kelas sembilan saya mendapat peringkat satu, dan saya harus bisa mempertahankan peringkat tersebut karena yang saya tahu apabila lulus dari sekolah saya dengan peringkat satu, maka akan mendapat sertifikat dan hadiah. Itulah yang memotivasi saya untuk mempertahankan peringkat saya. Pengumuman peringkat satu ternyata diumumkan saat perpisahan yang diadakan di daerah Puncal, Bogor. Alhamdulillah saya mampu mempertahankan peringkat satu saya dan dengan bangga saya naik ke atas panggung setelah nama saya dipanggil.
Perjalanan hidup saya belum selesai sampai di tahap ini, saya ingin terus melanjutkan pendidikan. Saya memilih SMKN 48 Jakarta alasannya karena kakak saya tidak berhasil masuk ke sekolah tersebut beberapa tahun sebelumnya, jaid saya bertekad bahwa saya pasti bisa lulus tes seleksi di SMKN 48 yang termasuk Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI). Berbagai tes yang sudah saya lakukan dan Alhamdulillah saya lulus dan saya menempati urutan kedua nilai tertinggi untuk jurusan Marketing/Pemasaran. Saya sangat bersyukur karena orangtua saya pun sangat bangga karena dari beberapa tetangga saya yang daftar ke sekolah tersebut, hanya saya dan anak dari Pak RT saja yang lulus.
Tak lama setelah masuk sekolah, saya terancam harus berhenti sekolah karena keadaan ekonomi keluarga saya yang tidak baik. Bapak saya sudah tidak bekerja lagi, sehingga tidak punya uang untuk membayar uang pangkal sebesar Rp. 3.500.000,-  dan uang SPP Rp. 350.000,-  per bulan. Saat itu saya sudah tidak diperbolehkan lagi masuk ke sekolah, tetapi saya bertekad  ingin terus belajar walaupun saya diberikan ongkos pas-pasan untuk pulang pergi naik angkutan umum. Pernah suatu ketika orangtua saya tidak mempunyai uang untuk memberikan ongkos jadi saya terpaksa tidak masuk sekolah selama hampir satu minggu.
Beruntungnya saya memiliki teman yang baik dan peduli terhadap saya. Dia datang ke rumah saya dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada saya, dan saya pun menceritakan semuanya. Lalu dia meminta saya untuk tetap masuk sekolah dan dia memberikan uangnya pada saya untuk ongkos naik angkutan umum. Keesokan harinya setelah pulang sekolah, dia berbicara pada saya bahwa orangtuanya mau membantu meringankan biaya sekolah saya dengan syarat saya harus tinggal di rumah beliau. Setelah saya berbicara dengan orangtua saya, mereka pun menyetujuinya. Saya pun langsung menyiapkan pakaian yang akan saya bawa dan saya diantar oleh Bapak saya ke rumah teman saya itu. Selama saya tinggal di sana, saya membantu bersih-bersih rumah dan saya sangat bersyukur karena saya dapat melanjutkan sekolah saya. Saya tinggal di sana tidak lama, hanya sekitar dua bulan karena mungkin teman saya terganggu dengan adanya saya di rumah itu sehingga saya tidak diizinkan lagi untuk tinggal di sana dan biaya sekolah saya pun terancam tidak dibayarkan lagi oleh beliau.
Setelah naik kelas dua, ada kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang memang dilaksanakan sesuai dengan jurusan masing-masing. Jurusan yang saya ambil yaitu Pemasaran sehingga saya PKL di Ramayana tetapi pada angkatan saya, diberikan kebebasan untuk memilih tempat PKL yang diinginkan. Akhirnya saya mendapatkan PKL di PT Prima Express (Primex) yang lokasinya tidak jauh dari rumah sehingga saya hanya jalan kaki.
Selama magang saya mempelajari banyak hal seperti cara mengirim surat lewat fax, menscan dokumen dan penerimaan karyawan karena memang saya ditempatkan di bagian HRD. Bahkan saya juga dipercayai untuk membantu pembagian gaji sehingga membuka obrolan mengenai sekolah saya dengan Bapak Bos dan bagian keuangan. Kesimpulan dari obrolan itu adalah beliau ingin membatu saya membayar tunggakan SPP dan uang gedung yang belum lunas sebesar Rp. 3.815.000,- tetapi bukan saya diberikan langsung uang tersebut secara tunai, melainkan bagian keuanganlah yang datang ke sekolah saya untuk melunasinya.
Saya sangat bersyukur karena tidak menyangka akan mendapatkan gaji yang jumlahnya sangat besar dan menutupi bayaran sekolah saya. Setelah dua bulan magang, habislah masa PKL saya. Saya kembali bersekolah dan pamitan kepada seluruh karyawan Primex. Satu bulan kemudian, RSBI dihapuskan dan semua yang siswa yang belum melunasi bayaran akan diputihkan alias tidak ada kewajiban untuk membayar lagi. Saya merasa sedih mengapa tidak sebelum saya gajian saja diputihkannya tetapi di sisi lain saya juga senang dan bangga karena berarti saya sudah tidak mempunyai hutang pada sekolah.
Waktu terus berlalu, hingga akhirnya saya pun lulus. Saya mempunyai niatan yang tinggi yaitu saya ingin melanjutkanpendidikan sampai Perguruan Tinggi, tetapi saya rasa itu tidak mungkin karena memang keadaan ekonomi keluarga saya yang sangat tidak memungkinkan. Di saat saya rasa itu semua tidak mungkin, namun Allah SWT menunjukkan Kuasa-Nya yaitu dengan saya dipertemukan dengan orang yang sangat baik hati yang menawarkan saya untuk membantunya bekerja di bengkel. Nama bengkelnya yaitu Jaya Multindo Motor.
Saat itu Ibu Bos saya menanyakan apakah saya ingin kuliah atau tidak, tanpa pikir panjang saya langsung menjawab “iya”. Saya pun daftar Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Saya memilih jurusan yang sesuai dengan jurusan saya di SMK sebelumnya yakni Jurusan Pendidikan Tata Niaga di Universitas Negeri Jakarta, pilihan kedua yaitu Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan yang ketiga jurusan pendidikan luar sekolah. Tetapi saya tidak lolos di SBMPTN dan saya mengikuti Seleksi Mandiri di UNJ dan ternyata saya lolos dan berhasil masuk ke jurusan Pendidikan Luar Sekolah UNJ.
Setelah saya berhasil masuk perguruan tinggi negeri, orang tua saya sangat bangga dan saya pun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya berusaha memberikan yang terbaik dengan makin tekun belajar. Pada saat semester pertama saya mengikuti seleksi ASEAN Japan Youth Forum dengan mengirimkan essai dan Alhamdulillah, Essai saya lolos, saya pun mengikuti event tersebut sebagai delegasi Indonesia di Bengkulu.
Hal ini membuat keluarga saya tambah bangga. Karena anak dari seorang kurir dan pembantu rumah tangga berhasil menjadi delegasi Indonesia di event Internasional. Bahkan majikan ibu saya pun tidak percaya, tidak hanya itu sebelumnya saya juga berhasil meraih juara tiga lomba menciptakan dan membaca puisi yang diselenggarakan oleh BNN di UNJ.
Semester tiga, saya dan tim juga berhasil lolos seleksi essai untuk Program Mahasiswa Wirausaha yang diketuai oleh saya sendiri. Tahap demi tahap tim kami melewati seleksi dan akhirnya kami berhasil mendapatkan dana Rp. 4.800.000,- dan inilah saya bagi keluarga yang selalu dan ingin terus membuat orang tua saya lebih bangga.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar